KEDATANGAN K.H. Abdurahaman Wahid alias Gus Dur, pada Juli 2000, ke Situ Panjalu,
telah memberikan berkah untuk Panjalu. Karena kedatangan Gus Dur, yang
saat itu menjabat Presiden RI, telah mengangkat pamor sejarah Panjalu.
Kedatangan Gus Dur ke sana, karena menurutnya Raja Panjalu yang bernama
Prabu Sanghyang Borosngora atau Sanghyang Jampang Manggung, termasuk
salah satu raja yang pertama menyebarkan agama Islam di Jawa atau
Indonesia. 
Implikasi dari ucapan Gus Dur tersebut, luar biasa.
Situ Panjalu yang biasanya hanya dikunjungi warga Ciamis dan
Tasikmalaya, tiba-tiba banyak dikunjungi warga dari daerah Jateng,
Jatim dan Madura, terutama dari kalangan warga NU. “Kedatangan mereka,
terutama untuk wisata ziarah. Setiap harinya minimal satu bus,” kata
Sekretaris Yayasan Borosngora, Ikin Susanto yang ditemui di Panjalu.
Bukan hanya itu saja, jalan menuju ke Kecamatan
Panjalu diaspal hotmix, baik jalan dari arah timur Kawali, arah utara
Cikijing, maupun dari arah Tasikmalaya. “Kedatangan Gus Dur telah
memberikan manfaat sangat besar bagi Panjalu,” tambah Kiai Acep
Effendi, tokoh ulama setempat.
Ikin Susanto termasuk salah seorang keturunan
keluarga kerajaan Panjalu. Sedangkan keturunan dari Raja Prabu
Sanghyang Borosngora yang terakhir dan masih hidup adalah H. Atong
Tjakradinata. Dari Ikin dan Atong ini, “PR” sekilas mendapatkan cerita
tentang kerajaan Panjalu waktu doeloe. Ditemui secara terpisah, dua
sosok ini secara lisan menceritakan nama-nama raja Panjalu.
Sejarah
Kerajaan Panjalu terbentuk dari gabungan dua
kerajaan, Gunung Bitung (Soko Galuh) dan Karangtenan Gunung Sawal.
Kerajaan Gunung Bitung, awalnya dipimpin Sanghyang Tunggal Ratu Galuh
Nyakrawati Ing Nusa Jawa. Kerajaan tsb kemudian diwariskan kepada
Batara Babar Buana, lalu Ratu Galuring Sajagat, Prabu Sanghyang Cipta
Permana Dewa.
Prabu Sanghyang Cipta Permana Dewa memiliki tiga
anak kembar yaitu Sanghyang Bleg Tambleg Rajagulingan, Sanghyang
Pamonggang Sangrumanghyang dan Sanghyang Ratu Permana Dewi. Di antara
ketiga anak raja tsb memiliki karakter berbeda. Sanghyang Ratu Permana
Dewi memiliki karakter lembut dan mengembangkan kerahayuan/kedamaian
sewaktu memimpin.
Syanghyang Ratu Permana Dewi menikah dengan Raja
Gumilang. Ia keturunan dari Kerajaan Karangtenan Gunung Sawal. Raja
pertamanya Prabu Tisna Jati, lalu ke Batara Layah, Karimun Putih dan
Marangga Sakti. Raja Marangga Sakti inilah ayahanda dari Rangga
Gumilang.
Karena rakyat sangat mencitai Sanghyang Ratu Permana
Dewi yang memimpin kerajaan bernama Soka Galuh, maka rakyatnya memberi
gelar tambahan yaitu Soka Galuh Panjalu. Arti Panjalu ini, kata Atong
Tjakradinata, adalah wanita. Kata itu berasal dari “jalu” adalah
laki-laki, sedangkan tambahan “pan” itu berarti wanita. Ikin
menambahkan, kata pan bisa berarti papan untuk laki-laki. Jadi panjalu
mengandung arti istri.
Gelar Panjalu untuk Sanghyang Ratu Permana Dewi,
yang dimasukan dalam nama kerajaannya, karena kecintaan rakyatnya atas
kepemimpinan sang ratu. Selama kepemimpinannya telah mewariskan
sejumlah falsafah hidup, yang dipegang warga Panjalu hingga sekarang.
Di antaranya, Mangan Karena Halal. Pake Karena Suci.
Ucap Lampah Sabenere. Menurut Atong maupun Ikin, bahwa falsafah itu
memilik arti sangat dalam untuk kehidupan orang Panjalu. Mereka (warga
Panjalu) harus makan barang yang halal. Bahkan, kata Atong, arti makan
di sini sangat luas. Tidak hanya semata memasukan barang yang padat ke
mulut, tapi semua yang bisa ditangkap dan dirasakan pancaindra, baik
itu mata, tangan dan sebagainya. Mata misalnya. jangan melihat yang
tidak pantas dilihat.
Falsafah tersebut sebenarnya untuk mengingatkan
warga Panjalu. Semua yang dipakai dan dimakan harus merupakan hasil
jerih payah yang baik atau kerja. Semua tindakan dan ucapan mesti
mengacu kepada kebenaran. “Jika falasah tsb terus dijaga, warga Panjalu
di mana pun berada, pasti selamat,” tegas Atong.
Keturunan
Dari pernikahan Rangga Gumilang dengan Sanghyang
Ratu Permana Dewi itu , lahir Prabu Sanghyang Lembu Sampulur Panjalu
Luhur I. Kerajaan tsb diturunkan lagi ke anaknya yang bernama Prabu
Sanghyang Cakradewa. Cakradewa dianggap salah seorang raja yang maha
sakti. tetapi yang menonjol, ia kabarnya termasuk yang ragu dengan
keberadaan dewa, sehingga arti “cakra” pada namanya bermakna menolak
dewa. Ajaran yang dikembangkan yaitu Sunda Wiwitan.
Raja ini punya enam anak yaitu Prabu Sanghyang Lembu
Sampulur II, Prabu Sanghyang Borosngora, Sanghyang Panji Barani,
Mamprang Kancana Artas Wayang, Ratu Punut Agung dan terakhir Angga
Runting. Putri kedua terakhir ini, kabarnya menikah dengan Prabu
Siliwangi.
Raja Cakradewa karena tidak percaya atas keberadaan
dewa, memerintahkan putranya Prabu Borosngora untuk mencari ilmu yang
bisa menjawab keraguan yang menyelimuti dirinya. Pada awalnya, Prabu
Borosngora mencari ilmu bela diri. Tetapi, ilmu yang telah dikuasainya
ternyata bukan yang diharapkan orangtuanya. Akhirnya, Borosngora
kembali keluar dari kerajaan. Tetapi kali ini, Raja Cakradewa memberi
syarat. Borosngora harus membawa gayung untuk membawa air saat pulang.
Hanya gayung itu harus dilubangi, sehingga tidak memungkinkan
Borosngora berhasil membawa air.
Meski perintah/ syarat tsb tidak logis, tapi karena
titah sang raja, Prabu Borosngora berangkat juga untuk mencari ilmu. Di
perjalanan, di sebuah padang pasir, ia kabarnya bertemu dengan
seseorang. Orang itu mengaku bernama Sayidina Ali. Dalam pertemuan itu,
Prabu Borosngora menyampaikan keinginannya untuk mencari guru yang
punya ilmu tinggi.
Mendengar penuturan tsb, Borosngora diajak
berjalan-jalan. Di sebuah tempat, orang tersebut sengaja menancapkan
tongkatnya dan meminta untuk diambilkan. Borosngora awalnya menganggap
keinginan orang yang baru dikenalnya sebagai hal yang mudah. Ia mungkin
berpikir, apa sulitnya mencabut sebatang tongkat yang ditancapkan tidak
begitu dalam. Tetapi, kenyataannya di luar dugaan. Meski sudah berusaha
sekuat tenaga, bahkan mencucurkan keringat, tongkat tsb jangankan
berhasil dicabut, bergoyang pun tidak. Borosngora akhirnya menyerah.
Orang yang mengaku salah satu sahabat Nabi itu
mendekati Borosngora. Sambil membaca Bismillah, hanya dengan satu
tangan, ia dengan mudah mencabut tongkatnya. Melihat pemandangan di
luar dugaannya, Borosngora kaget, bahkan memutuskan untuk berguru.
Setelah bertahun-tahun berguru, dia berniat pulang
ke Panjalu. Namun sebelum pulang, Borosngora diberi ilmu untuk memenuhi
permintaan ayahnya, Raja Cakradewa. Sehingga ketika tiba di Kerajaan
Panjalu, ia berhasil membawa air dengan gayung sekalipun berlubang.
Melihat kedigjayaan anaknya, Raja Cakradewa
memerintahkan anaknya agar membendung daerah Legok Jambu. Dan, air yang
berada dalam gayung disiramkan di daerah itu. Ajaib, setelah semua
dilakukan, Legok Jambu menjadi situ yang diberi nama Situ Panjalu.
Prabu Borosngora punya anak bernama Prabu Harian
Kancana. Makamnya berada di tengah situ atau lebih dikenal dengan Nusa
Gede. Keturunan lainnya dari Prabu Hariang Kancana yaitu Parbu Hariang
Kuluk Kunang Teko, Prabu Hariang Kadali Kancana, Prabu Hariang Kada
Cayut Martabaya, lalu turun lagi ke Prabu Hariang Kunang Natabaya.
Makam-makam raja ini sekarang ditemukan di beberapa tempat di daerah
Panjalu.
Kerajan Bubar
Kerajaan Panjalu bubar sekira tahun 1250. Lalu
bergabung masuk ke wilayah Keraton Cirebonan dan raja berganti menjadi
Bupati. Keturunan dari kerajan ini adalah Bupati Sembah Dalem Arta
Sacanata, Dalem Wiradipa. Diteruskan lagi oleh Sembah Dalem Cakranagara
I, Sembah Daleh Cakranagara II, Sembah Dalem Cakranagara III yang juga
merupakan bupati terakhir yaitu tahun 1819. Bupati terakhir ini juga
dimakamkan di tengah situ.
Keturunan bupati terakhir yaitu Demang Prajadinata
yang disebut sebagai pemilik Situ Lengkong. Dari Demang, turunannnya
berikutnya yaitu R.H. Muh Nur Tjakrapraja, lalu R.H. Nur Rohman Galib
Tjakradinata dan keturunan sekarang yaitu H. Atong Tjakradinata.
Untuk mengenang kerajaan Panjalu, biasanya ada satu
tradisi yang bernama Nyangku. Tradisi tersebut yaitu membersihkan
pedang dan senjata lainnya. Pedang yang dibersihkan itu kabarnya pernah
digunakan oleh Prabu Borosngora. Sekarang pedang dan senjata itu,
disimpan di bumi alit yang bersebelahan dengan kediaman Atong.
Sumber Tulisan: http://panjalu.multiply.com/
Berbagi
Komentar Terakhir